Back

Belajar Berkata "Tidak", Berani Berkata "Iya" pada Diri Sendiri

Growth
Belajar Berkata "Tidak", Berani Berkata "Iya" pada Diri Sendiri

Ada satu kata yang bagi sebagian orang terdengar sederhana, tetapi bagi banyak perempuan justru menjadi salah satu kata yang paling sulit diucapkan: “tidak.”

Bukan karena perempuan tidak mampu mengatakannya, tetapi karena sejak kecil banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi pribadi yang baik berarti selalu mengalah, selalu memahami, dan sebisa mungkin tidak mengecewakan orang lain. Kita terbiasa diajarkan untuk menjaga perasaan orang lain, bahkan ketika dalam prosesnya kita harus mengesampingkan perasaan sendiri. Tanpa disadari, kebiasaan itu kemudian terbawa hingga dewasa. Kita belajar mendahulukan kebutuhan orang lain, meskipun harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kebahagiaan sendiri. Kita takut dianggap egois ketika menolak, takut dicap tidak peduli ketika memilih menjaga diri, dan akhirnya terlalu sering mengatakan “iya” hanya karena tidak ingin membuat orang lain kecewa.

Padahal, tidak semua “iya” adalah kebaikan.

Ada kalanya mengatakan “iya” justru membuat seseorang kehilangan dirinya sedikit demi sedikit. Kita bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena takut meninggalkan, menerima perlakuan yang merendahkan karena merasa harus memahami, atau terus memikul beban yang sebenarnya bisa dibagi dengan orang lain. Semua itu terkadang dilakukan hanya karena kita tidak memiliki keberanian untuk berkata “tidak”.

Saya pernah menyadari bahwa perempuan sering diajarkan untuk menjadi sosok yang kuat. Namun, dalam perjalanan hidup, saya juga melihat bahwa definisi “kuat” itu kadang justru keliru. Seolah-olah perempuan harus sanggup memikul semuanya sendiri, tidak boleh mengeluh, harus selalu tersedia untuk orang lain, dan tetap terlihat baik-baik saja meskipun dirinya sendiri sedang kelelahan.

Padahal, kekuatan tidak selalu ditunjukkan dengan bertahan.

Ada saat ketika keberanian justru terlihat dari keputusan untuk berhenti. Berhenti menerima perlakuan yang tidak menghargai diri kita, berhenti menyalahkan diri sendiri atas kesalahan orang lain, dan berhenti menjalani hidup hanya demi memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitar. Berhenti bukan selalu berarti menyerah. Dalam keadaan tertentu, berhenti justru merupakan bentuk keberanian untuk menyelamatkan diri dan mengingat kembali bahwa kita juga memiliki nilai yang harus dijaga.

Menurut saya perempuan yang mengenal nilai dirinya tidak akan selamanya takut menolak hal-hal yang melukai martabatnya. Ia akan belajar memahami bahwa menjaga diri bukan berarti menjadi egois, dan menetapkan batas bukan berarti tidak peduli kepada orang lain. Justru ketika kita mampu mengenali batas, kita sedang belajar menghargai diri sendiri sekaligus memahami bahwa hubungan yang sehat seharusnya tidak mengharuskan seseorang kehilangan dirinya demi mempertahankan hubungan tersebut.

Namun, mengatakan “tidak” memang tidak selalu mudah. Banyak perempuan masih merasa bersalah ketika memilih dirinya sendiri, seolah-olah setiap keputusan yang mengutamakan kebutuhan diri harus disertai permintaan maaf. Padahal, kita tidak bisa terus memberi ketika diri sendiri sudah kelelahan. Kita juga tidak mungkin terus menjadi tempat bersandar bagi orang lain jika kita tidak pernah memberikan ruang kepada diri sendiri untuk beristirahat dan memulihkan keadaan.

Karena itu belajar berkata “tidak” sebenarnya bukan sekadar tentang menolak sesuatu. Lebih jauh dari itu, ia adalah proses belajar mengenali apa yang kita butuhkan, apa yang bisa kita terima, dan apa yang sudah seharusnya kita tinggalkan.

Dan setelah keberanian berkata “tidak” pada sesuatu yang tidak lagi baik bagi diri sendiri, ada keberanian lain yang tidak kalah penting: berkata “iya” pada mimpi sendiri.

Sering kali perempuan meragukan kemampuannya bukan karena benar-benar tidak mampu, tetapi karena terlalu lama mendengar kalimat-kalimat yang membuatnya mempertanyakan dirinya sendiri. “Apa kamu yakin bisa?” “Jangan bermimpi terlalu tinggi.” “Sudahlah, yang penting aman.” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana dan bahkan terkadang disampaikan dengan maksud baik, tetapi jika terus didengar, perlahan bisa membuat seseorang mengecilkan mimpinya sendiri.

Padahal banyak perubahan besar lahir dari perempuan yang berani melangkah meskipun pada awalnya diragukan. Mereka bukan perempuan yang tidak pernah takut. Mereka juga bukan orang-orang yang selalu yakin bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Mereka hanya memilih untuk tidak membiarkan rasa takut menentukan arah hidup mereka.

Setiap perempuan memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang sedang mengejar pendidikan, membangun usaha, mengembangkan karier, mendampingi keluarga, atau sedang berjuang bangkit dari kegagalan. Ada yang harus memulai dari keadaan yang sulit, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menemukan jalannya, dan ada pula yang harus berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri sebelum berani mengambil sebuah keputusan. Tidak ada perjalanan yang lebih tinggi atau lebih rendah, karena setiap orang memiliki tantangan dan maknanya masing-masing.

Karena itu kita tidak perlu terus mengukur kehidupan berdasarkan pencapaian orang lain. Kita tidak harus memiliki kehidupan yang sama, mencapai sesuatu pada usia yang sama, atau berjalan dengan kecepatan yang sama. Yang jauh lebih penting adalah apakah kita masih berjalan menuju kehidupan yang benar-benar kita inginkan dan apakah pilihan yang kita ambil masih sesuai dengan nilai yang kita percaya.

Saya percaya perempuan tidak diciptakan untuk selalu memenuhi harapan semua orang. Perempuan juga memiliki hak untuk memilih, menentukan arah hidup, menjaga harga dirinya, dan mengejar cita-cita yang diyakininya. Memilih diri sendiri tidak selalu berarti meninggalkan orang lain. Terkadang, itu justru menjadi cara untuk memastikan bahwa dalam perjalanan hidup yang panjang, kita tidak kehilangan diri sendiri hanya karena terlalu sibuk menjadi seseorang yang diharapkan oleh orang lain.

Keberanian itu mungkin tidak selalu terlihat oleh banyak orang. Tidak ada tepuk tangan ketika seseorang memutuskan keluar dari lingkungan yang tidak sehat. Tidak ada penghargaan ketika seseorang berani menolak perlakuan yang merendahkan dirinya. Tidak selalu ada orang yang memahami mengapa kita memilih sebuah jalan yang berbeda. Namun, justru keputusan-keputusan yang mungkin terlihat kecil dan sunyi seperti itulah yang terkadang menjadi titik awal dari perubahan besar dalam hidup.

Mungkin hari ini kita masih belajar berkata “tidak” tanpa rasa bersalah. Mungkin kita juga masih belajar berkata “iya” pada kesempatan yang selama ini kita hindari karena takut gagal, takut dinilai, atau takut mengecewakan orang lain. Tidak apa-apa jika prosesnya belum sempurna. Keberanian juga membutuhkan waktu untuk tumbuh, dan setiap orang memiliki prosesnya sendiri dalam menemukan keberanian tersebut.

Bagi saya menjadi perempuan yang kuat bukan berarti harus memenangkan setiap hal, mampu menghadapi semuanya sendirian, atau selalu terlihat baik-baik saja. Menjadi perempuan yang kuat adalah ketika kita mampu menjaga nilai diri, tidak kehilangan arah di tengah banyaknya tuntutan, dan tetap berani melangkah menuju kehidupan yang kita yakini.

Mungkin pada akhirnya kita memang tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Akan selalu ada harapan orang lain yang tidak dapat kita penuhi, keputusan yang tidak semua orang pahami, dan pilihan hidup yang mungkin membuat sebagian orang kecewa. Tetapi hidup bukan tentang terus-menerus mengejar penerimaan dari semua orang. Hidup adalah tentang belajar mengenali diri sendiri, berani menentukan batas, dan tetap setia pada nilai yang kita pegang tanpa kehilangan diri sendiri di sepanjang perjalanan.

Sebab keberanian terbesar seorang perempuan bukan hanya ketika ia mampu berkata “tidak” kepada sesuatu yang melukainya, tetapi juga ketika ia akhirnya berani berkata “iya” kepada dirinya sendiri.

You May Also Like

More Articles