Pertanyaan Sebelum Menikah, Selamat Datang di Seleksi Calon Menantu
Oleh : Al Fina
Saya kira urusan menikah adalah salah satu bagian hidup yang pada akhirnya menjadi keputusan pribadi. Ternyata anggapan itu sedikit terlalu naif. Di keluarga besar, keputusan untuk menikah kadang bisa berubah menjadi semacam proyek bersama yang semua orang merasa berhak ikut mengawasi, memberi saran, bahkan sesekali menentukan standar kelayakannya.
Pengalaman itu terasa ketika urusan pernikahan perlahan mulai menjadi perhatian bibi. Sebenarnya tidak ada masalah ketika beliau menanyakan soal pasangan atau rencana menikah. Saya paham, mungkin itu bentuk perhatian. Barangkali ada keinginan sederhana agar saya segera menemukan seseorang yang cocok dan menjalani kehidupan yang lebih mapan.
Ketika jawaban yang diberikan belum dianggap memuaskan, pertanyaan itu justru berpindah kepada orang tua. Di situlah semuanya mulai terasa lucu. Saya yang belum menikah, tetapi orang tua yang harus memberikan penjelasan. Rasanya seperti menjadi anak sekolah yang perkembangan akademiknya harus dilaporkan kepada wali kelas, hanya saja mata pelajarannya kali ini adalah pernikahan.
Padahal, di usia 25 tahun, rasanya sudah cukup dewasa untuk menentukan kehidupan sendiri tanpa harus menjalani semacam seleksi kelayakan di hadapan keluarga besar.
Antara perhatian dan terlalu ikut campur
Saya tidak pernah meminta keluarga berhenti peduli, nasihat dari orang tua dan keluarga tentu tetap punya tempat. Masalahnya adalah batas antara peduli dan terlalu ikut campur memang tipis, tetapi dampaknya bisa sangat terasa bagi orang yang menjadi objek perhatian tersebut.
Pertanyaan tentang pernikahan sebenarnya tidak terlalu mengganggu kalau hanya muncul sesekali. Yang melelahkan adalah ketika pertanyaan yang sama datang berkali-kali dan perlahan berubah menjadi tuntutan. Seolah-olah usia yang terus bertambah otomatis menciptakan tenggat waktu yang harus dipenuhi.
Lama-lama pernikahan terasa seperti sebuah kolom dalam daftar kehidupan yang harus segera dicentang. Sudah lulus, sudah bekerja, lalu tinggal menikah. Kalau bagian itu belum terisi, keluarga merasa perlu ikut membantu menyelesaikannya.
Yang lebih menarik, pembicaraan kemudian berkembang ke soal calon pasangan. Bukan hanya tentang cocok atau tidak cocok, tetapi juga mengenai pekerjaan. Calon pasangan dianggap ideal jika memiliki pekerjaan yang jelas dan masa depan yang terlihat aman.
Sebenarnya, saya bisa memahami logika di balik pemikiran tersebut. Pekerjaan memang penting dalam kehidupan rumah tangga. Pernikahan membawa tanggung jawab, termasuk tanggung jawab ekonomi, sehingga mengetahui pekerjaan calon pasangan tentu bukan pertanyaan yang aneh.
Namun, persoalannya muncul ketika pekerjaan mulai diperlakukan seperti ukuran utama untuk menentukan apakah seseorang layak menjadi pasangan.
Kalau menikah seperti proses rekrutmen
Pekerjaan memang bisa memberi gambaran tentang kondisi seseorang, tetapi tidak otomatis menjelaskan bagaimana ia menjalani hubungan. Seseorang bisa mempunyai pekerjaan bagus dan penghasilan tinggi, tetapi belum tentu memiliki kedewasaan untuk membangun rumah tangga. Sebaliknya, seseorang dengan pekerjaan sederhana dan penghasilan yang tidak terlalu besar bisa saja memiliki rasa tanggung jawab, kemauan bekerja keras, serta cara memperlakukan pasangan yang jauh lebih baik.
Kalau standar pasangan hanya dilihat dari pekerjaan, rasanya mencari jodoh tidak perlu lagi menggunakan perasaan. Cukup buka formulir pendaftaran, isi biodata, lampirkan CV, lalu tunggu hasil seleksi keluarga.
Nama lengkap, pendidikan terakhir, pekerjaan, lama bekerja, penghasilan, status rumah, kendaraan, kemudian mungkin ditambah surat rekomendasi dari tetangga.
Untungnya menikah bukan proses rekrutmen pegawai. Kalau memang seperti itu, saya tidak yakin banyak orang sanggup melewati tahap wawancara keluarga besar.
Masalahnya, karakter seseorang jauh lebih sulit diukur daripada pekerjaan. Pendidikan mudah ditanyakan, penghasilan mudah dibandingkan, dan status pekerjaan gampang dikategorikan. Sementara kedewasaan, kesetiaan, kemampuan berkomunikasi, cara menghadapi masalah, serta kesediaan bertanggung jawab justru baru terlihat ketika kehidupan mulai tidak berjalan sesuai rencana.
Orang tidak akan setiap hari hidup dengan jabatan pasangannya. Masalah rumah tangga juga tidak otomatis selesai karena pasangan memiliki pekerjaan tetap. Gaji yang besar tidak menjamin seseorang menjadi pasangan yang penyayang, sebagaimana pekerjaan sederhana tidak otomatis membuat seseorang tidak mampu membangun keluarga. Ada banyak hal yang baru terlihat ketika dua orang menjalani kehidupan bersama.
Menikah Bukan Perlombaan
Karena itu, ketika pertanyaan mengenai pekerjaan calon pasangan sampai kembali ditanyakan kepada orang tua, rasanya kehidupan pribadi mengalami ekspansi wilayah. Tadinya urusan saya sendiri, kemudian menjadi urusan orang tua, lalu perlahan menjadi perhatian bibi. Kalau terus berkembang, entah kapan perlu dibuatkan rapat keluarga lengkap dengan notulen.
Mungkin agenda rapatnya membahas perkembangan pencarian pasangan, kriteria calon, pekerjaan calon, kesiapan menikah, sampai target waktu pernikahan.
Semua itu memang terdengar lucu, tetapi pertanyaan yang sama ketika datang berulang kali tetap bisa melelahkan. Ada saat ketika ingin menjalani hidup tanpa harus terus-menerus memikirkan bagaimana menjelaskan status pernikahan kepada keluarga.
Yang paling tidak ingin dilakukan adalah menikah hanya supaya pertanyaan berhenti. Sebab kalau alasan menikah adalah karena sudah lelah ditanya, besar kemungkinan setelah menikah akan muncul pertanyaan baru. Kapan punya anak, kapan membeli rumah, kapan punya anak kedua, dan mungkin berbagai target lain yang tidak pernah benar-benar selesai.
Sepertinya keluarga memang memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat daftar pencapaian kehidupan yang selalu memiliki halaman berikutnya.
Pada akhirnya, saya tetap menghargai perhatian keluarga. Mungkin bibi memang terlalu ikut campur, tetapi di balik rasa ingin tahu yang kadang membuat kesal itu ada kepedulian yang mungkin tidak selalu tahu cara menyampaikannya.
Namun, keputusan untuk menikah tetap merupakan bagian dari kehidupan yang harus dijalani sendiri. Keluarga boleh memberi nasihat, orang tua boleh berharap, dan bibi boleh bertanya sesekali, tetapi orang yang nantinya menjalani rumah tangga tersebut tetaplah saya bersama pasangan.
Sebab yang akan bangun setiap pagi bersama pasangan bukan bibi. Yang akan menghadapi persoalan rumah tangga juga bukan bibi. Begitu pula ketika kehidupan sedang sulit, yang harus belajar memahami kekurangan satu sama lain bukan keluarga besar.
Jadi, kalau suatu hari nanti waktunya sudah tiba, tentu keluarga akan menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Tetapi saya ingin pernikahan tersebut terjadi karena memang sudah menemukan orang yang tepat dan merasa siap menjalaninya, bukan karena akhirnya menyerah setelah terlalu lama menjadi bahan pembicaraan keluarga.