Di Usia 25 Tahun Sibuk Mencari Side Hustle, Sampai Lupa Bahwa Hidup Bukan Perlombaan
Oleh : Al Fina
Saya pernah mengira usia 25 tahun akan membuat hidup terasa sedikit lebih jelas. Setidaknya, beberapa hal yang sejak awal usia dua puluhan masih berantakan seharusnya mulai menemukan bentuknya. Pekerjaan sudah lebih stabil, penghasilan mulai terasa aman, tabungan perlahan terkumpul, dan yang paling penting, ada gambaran tentang kehidupan seperti apa yang ingin dijalani.
Ternyata yang datang justru lebih banyak pertanyaan. Di usia ini, rasanya semua orang sedang bergerak ke suatu tempat. Ada yang menikah, membeli rumah, mendapatkan pekerjaan yang dianggap bagus, melanjutkan pendidikan, membangun bisnis, atau memiliki penghasilan tambahan dari pekerjaan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikirkan. Sementara kehidupan sendiri kadang masih seperti membuka terlalu banyak tab browser sekaligus. Semuanya terasa penting, tetapi tidak ada yang benar-benar selesai.
Di tengah keadaan seperti itu, istilah side hustle semakin sering terdengar. Ada yang membuka usaha kecil, menerima proyek setelah jam kerja, menjadi freelancer, membuat konten, berjualan secara daring, atau mengubah keahlian tertentu menjadi sumber penghasilan tambahan. Awalnya semua itu terlihat menarik. Sampai kemudian muncul pertanyaan yang agak mengganggu kalau satu pekerjaan saja belum cukup untuk menjamin masa depan, apakah berarti harus mulai mencari pekerjaan kedua?
Ketika pekerjaan utama terasa belum cukup
Ada masa ketika pekerjaan selesai bukan berarti hari juga selesai. Setelah jam kerja berakhir, masih ada pekerjaan sampingan yang menunggu. Kalau tidak mengerjakan side hustle, muncul keinginan untuk belajar keterampilan baru. Ketika tidak belajar, waktu luang terasa seperti sesuatu yang terbuang percuma.
Barangkali yang dicari dari side hustle memang bukan sekadar uang. Ada rasa aman yang ingin dibangun dengan memiliki sumber penghasilan lain. Ketika pekerjaan utama sedang baik-baik saja, semuanya terasa seperti keputusan yang masuk akal. Namun, di belakangnya selalu ada kekhawatiran kecil tentang masa depan dan kemungkinan bahwa keadaan suatu hari tidak lagi sebaik sekarang.
Tanpa disadari, pekerjaan sampingan yang awalnya hanya ingin dicoba perlahan berubah menjadi sesuatu yang terasa wajib dilakukan.
Melihat orang lain memiliki beberapa sumber penghasilan membuat perasaan itu semakin kuat. Ada rasa kagum, tetapi kadang muncul pula pertanyaan, “Kalau mereka bisa, kenapa saya belum?” Pertanyaan sederhana semacam itu cukup untuk membuat waktu istirahat terasa seperti sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.
Akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu untuk tidur lebih lama malah dipenuhi pikiran tentang pekerjaan. Bahkan ketika sedang tidak melakukan apa-apa, ada suara kecil yang mengingatkan bahwa waktu tersebut sebenarnya bisa digunakan untuk menghasilkan uang.
Pada titik tertentu, pekerjaan sampingan tidak lagi terasa seperti jalan tambahan untuk memperbaiki kehidupan. Ia mulai menyerupai pekerjaan kedua yang diam-diam meminta perhatian hampir sebanyak pekerjaan utama.
Tidak semua hasil berada dalam kendali
Kegelisahan tersebut kemudian membawa saya pada Stoikisme, terutama gagasan tentang membedakan hal-hal yang berada dalam kendali dengan sesuatu yang memang berada di luar kendali. Konsepnya terdengar sederhana ketika dibaca, tetapi ternyata cukup sulit diterapkan ketika berhadapan dengan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Kita dapat mengusahakan kualitas pekerjaan, meningkatkan kemampuan, mengatur waktu, dan mengambil keputusan dengan lebih baik. Namun, hasil akhirnya tidak selalu mengikuti usaha yang sudah dikeluarkan. Sebuah proyek dapat dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tetapi belum tentu klien memilih kita. Sebuah usaha bisa direncanakan dengan matang, tetapi belum tentu langsung menghasilkan keuntungan.
Di situlah sering muncul masalah. Hasil pekerjaan dianggap sebagai cermin langsung dari kemampuan diri. Ketika berhasil, kita merasa hebat. Ketika gagal, yang dipertanyakan bukan hanya strateginya, tetapi juga diri sendiri.
Padahal usaha dan hasil tidak selalu mempunyai hubungan sesederhana itu. Mungkin bagian yang perlu diperhatikan adalah apa yang memang dapat dilakukan dengan baik, sementara hasil akhirnya perlu diterima sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dipaksa.
Bukan berarti menjadi pasrah, tetapi memahami bahwa kerja keras tidak selalu datang bersama jaminan hasil yang sesuai harapan.
Tidak semua kesempatan harus diambil
Usia 25 tahun juga membuat banyak kesempatan terlihat terlalu sayang untuk dilewatkan. Ada proyek kecil diterima karena siapa tahu berkembang. Ada pekerjaan tambahan diambil karena lumayan untuk menambah pemasukan. Ada kegiatan baru dicoba karena takut tertinggal.
Lama-lama jadwal penuh, tetapi arah hidup justru semakin kabur. Mulai muncul kesadaran bahwa mengatakan tidak pada sebuah kesempatan tidak selalu berarti kehilangan peluang. Kadang, keputusan tersebut justru memberikan ruang untuk sesuatu yang lebih penting. Setiap kali mengatakan iya pada pekerjaan tambahan, ada waktu yang harus dikorbankan. Bisa jadi waktu bersama keluarga, waktu beristirahat, atau sekadar kesempatan untuk menikmati hari tanpa memikirkan target.
Anehnya, istirahat sering dianggap tidak produktif hanya karena tidak menghasilkan uang. Padahal manusia bukan mesin yang harus terus menyala agar dianggap berguna. Ada malam yang memang seharusnya digunakan untuk tidur. Ada akhir pekan yang tidak perlu menghasilkan apa-apa. Bahkan ada waktu kosong yang tidak harus diubah menjadi kesempatan bisnis.
Usia 25 dan kebiasaan membandingkan hidup
Persoalan menjadi semakin rumit ketika kehidupan orang lain terus muncul di layar. Teman sebaya yang menikah, naik jabatan, membeli rumah, melanjutkan pendidikan, atau membangun bisnis perlahan membuat perjalanan sendiri terlihat seperti sesuatu yang tertinggal.
Media sosial membuat perbandingan tersebut semakin tidak adil karena yang terlihat biasanya hanya hasil akhirnya. Kita melihat keberhasilan seseorang, tetapi tidak melihat kegagalan yang mendahuluinya. Kita melihat bisnis yang berkembang, tetapi tidak mengetahui berapa banyak waktu, uang, dan kesempatan yang pernah dikorbankan.
Membandingkan kehidupan sendiri dengan potongan kehidupan orang lain akhirnya seperti membandingkan halaman terakhir sebuah buku dengan halaman tengah buku yang sedang kita baca.
Mungkin karena itu, usia 25 tahun tidak seharusnya diperlakukan sebagai tenggat waktu untuk menyelesaikan seluruh hidup. Tidak ada aturan bahwa pada usia tersebut seseorang harus sudah memiliki semuanya. Yang lebih penting adalah memahami ke mana kehidupan ingin diarahkan dan apakah langkah yang sedang ditempuh masih terasa masuk akal.
Ambisi tentu tidak perlu dibuang. Keinginan memiliki penghasilan lebih baik tetap ada, begitu pula keinginan mengembangkan side hustle dan mempersiapkan masa depan. Hanya saja, semuanya tidak harus dikejar dengan perasaan takut tertinggal.
Ada perbedaan antara mengejar sesuatu karena memang menginginkannya dan mengejar sesuatu karena takut orang lain lebih dulu mendapatkannya.
Mungkin pelajaran Stoikisme yang paling relevan di usia 25 tahun bukan tentang berhenti peduli pada masa depan, melainkan belajar membedakan mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang tidak perlu dipaksakan.
Pada akhirnya, menjadi dewasa mungkin bukan tentang berhasil memiliki semuanya di usia tertentu. Bisa jadi justru tentang mulai memahami apa yang layak dikejar, apa yang cukup diusahakan, dan kapan harus berhenti sejenak tanpa merasa bersalah.
Sebab hidup memang perlu dibangun, tetapi tidak harus dikejar sampai kita lupa menikmati kehidupan yang sedang dibangun itu sendiri.