Konser Mahal Tetap Laris, Ekonomi Indonesia Membaik atau Cuma Efek Gelembung?
Oleh : Al Fina
Ada fenomena yang menarik setiap kali penjualan tiket konser artis besar dibuka. Harga tiket bisa mencapai jutaan rupiah, bahkan untuk kelas tertentu nilainya tidak sedikit jika dibandingkan dengan penghasilan bulanan sebagian masyarakat. Namun, begitu penjualan dimulai, tiket justru bisa habis dalam waktu singkat. Media sosial kemudian dipenuhi tangkapan layar bukti pembelian, cerita perjuangan mendapatkan tiket, hingga keluhan dari orang-orang yang gagal masuk ke dalam antrean digital.
Pemandangan semacam itu kemudian sering melahirkan kesimpulan yang kelihatannya masuk akal: kalau tiket konser yang harganya mahal tetap laku keras, berarti banyak orang punya uang. Kalau banyak orang punya uang, berarti daya beli masyarakat sedang tinggi. Dari sana, muncul lagi kesimpulan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja. Persoalannya, apakah kita memang bisa membaca kondisi ekonomi masyarakat hanya dari tiket konser yang ludes?
Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, memberikan pandangan yang perlu diperhatikan. Dalam artikel resmi UNAIR News berjudul “Tiket Konser Mahal Ludes Terjual, Pakar UNAIR: Bukan Indikator Daya Beli Tinggi”, Prof. Gancar menjelaskan bahwa tiket konser yang habis terjual tidak dapat dijadikan ukuran untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat secara umum sedang tinggi. Menurutnya, fenomena tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh fanatisme dan loyalitas konsumen terhadap artis yang mereka sukai.
Penjelasan itu sebenarnya cukup sederhana, tetapi penting. Sebab, kita sering keliru membedakan antara kemampuan sekelompok orang untuk membeli sesuatu dengan kondisi daya beli masyarakat secara keseluruhan. Ketika puluhan ribu orang rela membeli tiket dengan harga mahal, fakta yang terlihat memang menunjukkan adanya konsumen yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Namun, pembeli tersebut adalah kelompok tertentu dengan karakteristik dan preferensi yang spesifik. Mereka belum tentu mewakili seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Tiket Mahal dan Fanatisme Penggemar
Dalam melihat fenomena konser, faktor fanatisme menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan. Bagi penggemar berat, konser bukan hanya soal membeli tiket untuk menonton penyanyi selama beberapa jam. Ada pengalaman yang ingin diperoleh, ada kesempatan melihat idola secara langsung, ada rasa menjadi bagian dari komunitas penggemar, dan ada kekhawatiran bahwa kesempatan serupa belum tentu datang lagi dalam waktu dekat. Karena itu, keputusan membeli tiket tidak selalu dibuat dengan pertimbangan ekonomi yang sama seperti ketika seseorang membeli kebutuhan sehari-hari.
Prof. Gancar bahkan menyoroti adanya penggemar yang rela melakukan berbagai cara agar bisa memperoleh tiket. Sebagian memilih mengurangi pengeluaran lain, sementara dalam kondisi tertentu ada pula yang menggunakan pinjaman online. Fakta ini menunjukkan bahwa tiket yang berhasil terjual belum tentu seluruhnya dibeli oleh orang yang memiliki kondisi keuangan longgar. Ada kemungkinan seseorang memang mempunyai dana yang cukup, tetapi ada pula yang memaksakan pengeluaran karena menganggap pengalaman tersebut sangat berharga
Di titik ini, pertanyaan tentang daya beli menjadi lebih menarik. Apakah seseorang yang mampu membeli tiket Rp2 juta otomatis mempunyai daya beli yang kuat? Belum tentu. Kita perlu melihat dari mana uang itu berasal, apa yang dikorbankan untuk membelinya, dan bagaimana kondisi keuangan orang tersebut setelah transaksi selesai. Sebab, membeli barang atau jasa dengan harga tinggi dan memiliki kondisi keuangan yang sehat adalah dua hal yang berbeda.
Konser sebagai Bentuk Self Reward
Ada alasan lain yang juga masuk akal mengapa seseorang rela mengeluarkan uang cukup besar untuk konser. Prof. Gancar melihat konser yang tidak berlangsung setiap tahun sebagai salah satu bentuk momentum khusus bagi penggemar. Karena sifatnya tidak rutin, konser bisa dianggap sebagai kesempatan untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri atau self reward. Setelah bekerja, menabung, dan menjalani rutinitas, seseorang merasa tidak ada salahnya menggunakan sebagian uangnya untuk menikmati pengalaman yang memang sdah lama dinantikan.
Menurut saya, menikmati hiburan bukan sesuatu yang harus selalu dianggap sebagai pemborosan. Hidup juga tidak hanya soal menabung dan memenuhi kebutuhan pokok. Ada ruang untuk bersenang-senang, berkumpul dengan teman, bepergian, menonton pertunjukan, atau sekadar membeli sesuatu yang memang kita sukai. Yang menjadi persoalan adalah ketika keinginan untuk mendapatkan hiburan mulai mengalahkan kemampuan finansial.
Konser bisa menjadi hiburan yang menyenangkan selama uang yang digunakan memang tersedia dan tidak mengganggu kebutuhan yang lebih penting. Tetapi kalau seseorang harus mengorbankan kebutuhan pokok, menunda kewajiban, atau menambah utang yang sulit dibayar hanya karena takut kehilangan kesempatan menonton artis idola, persoalannya menjadi berbeda. Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan sebenarnya bukan hanya "apakah kita mampu membeli tiket?", tetapi juga "apakah kondisi keuangan kita tetap aman setelah membeli tiket?"
Ketika FOMO Ikut Mengambil Keputusan
Ada faktor lain yang semakin kuat di era media sosial, yaitu fear of missing out atau FOMO. Konser sekarang tidak berhenti ketika pertunjukan selesai. Sebelum konser berlangsung, media sosial sudah dipenuhi pembicaraan tentang siapa yang akan datang, berapa harga tiketnya, dan bagaimana cara mendapatkannya. Setelah tiket terjual, orang-orang mengunggah bukti pembelian. Ketika konser berlangsung, video penampilan artis beredar di berbagai platform. Setelah acara selesai, foto dan cerita pengalaman penonton kembali memenuhi linimasa.
Siklus tersebut bisa membuat seseorang merasa sedang melewatkan sesuatu yang besar. Prof. Gancar dalam tulisan resmi UNAIR mengenai tren konser dan perilaku konsumen Gen Z menyoroti FOMO sebagai salah satu tekanan sosial yang dapat mendorong keputusan konsumsi secara impulsif. Dalam situasi seperti ini, seseorang bisa saja membeli tiket bukan semata-mata karena sudah menyiapkan anggaran, melainkan karena merasa harus ikut agar tidak tertinggal dari lingkungan sosialnya.
Masalahnya, keputusan yang didorong oleh FOMO sering kali membuat kita berpikir pendek. Kita lebih sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan tiket hari ini daripada bagaimana membayar kebutuhan bulan depan. Padahal, rasa kehilangan karena tidak ikut konser biasanya hanya berlangsung sementara. Sebaliknya, utang atau kewajiban finansial bisa bertahan jauh lebih lama.
Stadion Penuh Tidak Berarti Indonesia Penuh Orang Berduit
Ada satu cara sederhana untuk melihat mengapa tiket konser tidak bisa digunakan sebagai ukuran daya beli nasional, yaitu dengan membandingkan jumlah penonton dengan jumlah penduduk Indonesia. Dalam artikel resminya, UNAIR menyebut stadion besar seperti GBK atau JIS dapat menampung sekitar 70.000 sampai 80.000 penonton. Jumlah itu tentu terlihat sangat besar ketika kita melihat stadion dipenuhi manusia. Namun, skalanya menjadi berbeda ketika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta orang.
BPS melalui hasil SUPAS 2025 mencatat jumlah penduduk Indonesia sekitar 284,67 juta jiwa. Jika sebuah konser dihadiri 80.000 orang, jumlah tersebut hanya sekitar 0,028 persen dari total penduduk Indonesia. Dengan kata lain, meskipun sebuah konser benar-benar penuh dan seluruh tiketnya terjual, jumlah penontonnya tetap hanya sebagian sangat kecil dari populasi nasional.
Karena itu, sangat berisiko jika kita menggunakan keramaian satu konser sebagai gambaran kondisi ekonomi seluruh masyarakat. Prof. Gancar menyebut kondisi tersebut sebagai bubble effect, yaitu ketika fenomena konsumsi pada kelompok tertentu terlihat sangat besar, tetapi sebenarnya hanya menggambarkan perilaku kelompok yang terbatas. Apalagi, kelompok penggemar konser biasanya memiliki karakteristik loyalitas yang kuat terhadap artis atau jenis hiburan tertentu.
Media Sosial Membuat Fenomena Kecil Terlihat Besar
Persoalannya menjadi semakin menarik karena kita hidup di era ketika sebuah peristiwa dapat terlihat jauh lebih besar daripada ukuran sebenarnya. Puluhan ribu penonton konser bisa menghasilkan jutaan interaksi di media sosial. Ada unggahan, komentar, video pendek, foto, ulasan, hingga pemberitaan dari berbagai media. Orang yang bahkan tidak berada di lokasi konser pun akhirnya ikut melihat kemeriahannya.
Akibatnya, kita bisa memperoleh kesan bahwa hampir semua orang sedang menonton konser. Padahal, sebenarnya kita sedang melihat konten dari kelompok tertentu yang terus diperbanyak dan diperlihatkan kepada kita. Prof. Gancar menempatkan fenomena ini dalam konteks bubble effect: apa yang terlihat sangat ramai di ruang publik belum tentu menggambarkan perilaku seluruh masyarakat.
Hal ini juga menjadi pengingat bahwa media sosial bukanlah cermin sempurna kondisi ekonomi masyarakat. Linimasa kita bisa dipenuhi orang yang sedang bepergian, makan di restoran mahal, membeli gawai baru, atau menonton konser. Tetapi kita tidak melihat dengan proporsi yang sama orang-orang yang sedang mengurangi pengeluaran, membayar cicilan, menambah tabungan, atau berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tetapi Konser Tetap Punya Dampak Ekonomi
Meski begitu, bukan berarti konser tidak memberikan manfaat ekonomi. Justru ada banyak aktivitas ekonomi yang ikut bergerak ketika sebuah pertunjukan besar digelar. Penonton membutuhkan transportasi, makanan, tempat menginap, dan berbagai kebutuhan lain. Pedagang di sekitar lokasi mendapatkan calon pembeli, pekerja acara memperoleh pekerjaan, sementara pelaku usaha kreatif dan UMKM bisa mendapatkan peluang dari keramaian tersebut.
UNAIR juga mencatat bahwa konsumsi terkait konser memiliki sisi positif bagi perekonomian, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap suatu destinasi dan memberikan dampak ekonomi terhadap daerah yang menjadi lokasi penyelenggaraan. Jadi, konser memang bisa menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dan menciptakan perputaran uang.
Yang perlu diluruskan adalah hubungan antara kedua hal tersebut. Konser yang ramai dapat menunjukkan bahwa ada aktivitas ekonomi yang bergerak di sekitar acara. Tetapi tiket yang habis terjual tidak otomatis membuktikan bahwa daya beli seluruh masyarakat sedang tinggi. Keduanya merupakan kesimpulan yang berbeda dan tidak seharusnya dicampuradukkan.
Lebih Mudah Melihat Orang Belanja daripada Orang Menabung
Mungkin inilah bagian yang paling jarang kita bicarakan. Ketika membahas daya beli, perhatian kita sering tertuju pada kemampuan masyarakat membeli sesuatu. Kita melihat pusat perbelanjaan yang ramai, restoran penuh, kendaraan baru di jalan, atau tiket konser yang habis. Semua itu mudah dilihat karena merupakan aktivitas yang tampak di ruang publik.
Sebaliknya, kita tidak bisa melihat dengan mudah berapa banyak orang yang sedang menambah dana darurat, berapa yang sedang melunasi utang, atau berapa yang memilih menunda pembelian karena ingin menjaga kondisi keuangannya. Padahal, kemampuan finansial seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak barang atau jasa yang bisa dibeli hari ini. Ada juga kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pada bulan-bulan berikutnya.
Prof. Gancar karena itu mengingatkan pentingnya literasi keuangan dan investasi jangka panjang. Masyarakat perlu tetap memikirkan kebutuhan primer dan sekunder yang lebih panjang, bukan hanya mengejar kepuasan konsumsi dalam jangka pendek.
Dalam artikel UNAIR mengenai tren konser dan literasi keuangan Gen Z, Prof. Gancar juga memberikan gambaran mengenai pembagian anggaran yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi generasi muda. Ia menyarankan sekitar 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan sosial, 20 persen untuk hiburan, dan 10 persen untuk tabungan atau investasi. Pembagian tersebut tentu bukan rumus yang harus diterapkan sama persis oleh semua orang, karena kondisi pendapatan dan kebutuhan setiap orang berbeda. Namun, prinsip yang ingin disampaikan cukup jelas hiburan boleh masuk dalam anggaran, tetapi jangan sampai seluruh penghasilan habis untuk konsumsi jangka pendek.
Jangan Mengukur Ekonomi Indonesia dari Satu Stadion
Pada akhirnya, tiket konser yang ludes dalam hitungan menit memang menunjukkan adanya kelompok masyarakat yang memiliki minat dan kemampuan untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi sebuah pengalaman. Fenomena itu nyata dan tidak perlu dibantah. Konser juga dapat menciptakan perputaran ekonomi dan memberi manfaat bagi berbagai pelaku usaha yang berada di sekitar kegiatan tersebut.
Namun, menarik kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia secara keseluruhan sedang memiliki daya beli tinggi hanya karena tiket konser habis terjual adalah perkara lain. Jumlah pembeli konser sangat kecil jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia, sementara perilaku kelompok tersebut juga dipengaruhi faktor loyalitas, fanatisme, FOMO, dan keinginan mendapatkan pengalaman yang sifatnya tidak rutin.
Karena itu, perlu lebih hati-hati membaca fenomena ekonomi yang muncul di ruang publik. Stadion yang penuh memang menunjukkan ada uang yang berputar, tetapi kondisi ekonomi masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat di satu tempat. Ada pendapatan yang harus diperhitungkan, biaya hidup yang terus berjalan, kewajiban rumah tangga, utang, tabungan, investasi, serta kemampuan memenuhi kebutuhan dalam jangka panjang.
Menonton konser tentu boleh. Membeli tiket mahal juga bukan sesuatu yang otomatis salah. Kalau memang sudah menabung, sudah menghitung kemampuan, dan kebutuhan utama tetap aman, menikmati konser bisa menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Yang perlu dihindari adalah memaksakan diri hanya karena takut ketinggalan tren atau merasa harus mengikuti orang lain.
Sebab konser mungkin hanya berlangsung beberapa jam, sementara konsekuensi dari keputusan finansial bisa jauh lebih panjang. Setelah lampu panggung dimatikan, musik berhenti, dan penonton kembali ke rumah masing-masing, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Tagihan tetap datang, kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi, dan masa depan tetap membutuhkan persiapan.
Maka, kalau suatu hari nanti kita melihat lagi berita bahwa tiket konser jutaan rupiah habis dalam beberapa menit, mungkin kesimpulan yang paling aman bukanlah "orang Indonesia sedang semakin kaya". Kesimpulan yang lebih tepat adalah bahwa ada kelompok konsumen tertentu yang sangat antusias dan bersedia mengeluarkan uang untuk pengalaman yang mereka anggap bernilai.
Dan mungkin kita memang tidak perlu mengukur kesehatan ekonomi sebuah negara dari satu stadion yang penuh. Sebab ukuran ekonomi yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar berapa banyak orang yang berhasil mendapatkan tiket konser.