Ketika Kiamat Terasa Begitu Dekat
Oleh : Athifah
Ketika Kiamat Terasa Begitu Dekat
Tuhan, tentang itu yang telah Kau ceritakan dalam Al-Qur’an lewat guru-guruku, terasa begitu dekat hari ini, yaa kiamat. Dulu, ketika mendengar tentang kiamat, saya membayangkannya sebagai sesuatu yang begitu jauh, sesuatu yang akan datang pada waktunya dan menjadi akhir dari kehidupan manusia. Namun, hari ini, ketika melihat begitu banyak peristiwa terjadi silih berganti di negeri ini, cerita-cerita yang dahulu hanya saya dengarkan dari guru-guru saya perlahan terasa begitu dekat. Ada rasa takut dan pertanyaan yang terus muncul dalam pikiran, apakah semua yang sedang terjadi ini hanya rangkaian peristiwa yang kebetulan datang bersamaan, atau justru sebuah pengingat bahwa manusia sedang berjalan terlalu jauh dalam memperlakukan kehidupan?
Ia seperti meraba setiap tarikan napas orang-orang yang tidak berdosa, perlahan menjelma menjadi pengendali kehidupan, sementara manusia tidak bisa berbuat banyak selain menerima dan berusaha bertahan. Yang paling menakutkan bukan hanya ketika bencana datang, tetapi ketika rasa cemas menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, ketika kita mulai terbiasa mendengar kabar tentang kehilangan, kerusakan, ketakutan, dan penderitaan seolah semuanya adalah sesuatu yang biasa.
Di setiap bulan Agustus yang katanya merupakan bulan lahirnya kemerdekaan, seharusnya kita kembali mengingat perjuangan bangsa ini untuk terbebas dari penjajahan, keterpurukan, kesengsaraan, ketertindasan, dan kemelaratan. Agustus seharusnya menjadi bulan penyelamat bangsa, bulan yang mengingatkan kita bahwa kemerdekaan lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Namun, beberapa tahun terakhir justru membuat Agustus terasa berbeda.
Bulan Agustus yang seharusnya menjadi bulan penuh kebanggaan, akhir-akhir ini justru terasa menjadi bulan yang mengerikan, menakutkan, menggertak, dan menyedihkan bagi bangsa ini. Di tengah perayaan kemerdekaan, masyarakat justru seperti terus dihantui rasa cemas yang tidak pernah benar-benar usai. Ada banyak hal yang membuat kita bertanya-tanya, apakah negeri ini benar-benar sedang baik-baik saja?
Agustus 2025 menjadi salah satu gambaran dari kecemasan itu. Aksi besar-besaran terjadi sebagai akibat dari kekacauan dan carut-marut sistem pemerintahan yang semakin membuat masyarakat mempertanyakan arah negeri ini. Ketika masyarakat turun ke jalan untuk menyampaikan kegelisahan dan protesnya, suara mereka seharusnya didengar, karena bukankah dalam sebuah negara yang mengaku demokratis, rakyat memiliki hak untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan?
Namun, luka itu kemudian menjadi semakin dalam ketika Affan Kurniawan, seorang warga biasa, tewas setelah dilindas kendaraan taktis Brimob dalam situasi aksi. Peristiwa tersebut bukan sekadar kabar yang kemudian lewat di layar gawai dan digantikan berita lainnya. Ada satu nyawa yang hilang, ada keluarga yang kehilangan, dan ada pertanyaan yang sampai hari ini terasa berat untuk dijawab: bagaimana mungkin seseorang yang sedang berada di tengah situasi seperti itu harus kehilangan nyawanya dengan cara demikian?
Belum selesai luka itu dirasakan, berbagai peristiwa lain kembali datang. Banjir bandang terjadi di Aceh dan Sumatra Barat, membawa kerusakan dan kehilangan bagi masyarakat yang kembali harus menghadapi dampak paling berat dari sebuah bencana. Mereka kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan orang-orang yang mereka cintai, sementara kehidupan harus tetap berjalan seolah-olah mereka memiliki pilihan lain.
Disusul lagi dengan persoalan Makan Bergizi Gratis yang diwarnai kejadian keracunan yang menimpa banyak anak. Anak-anak yang seharusnya mendapatkan makanan untuk mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mereka justru harus berhadapan dengan sakit dan ketakutan.
Rangkaian peristiwa tersebut membuat Agustus tidak lagi terasa seperti sekadar sebuah bulan dalam kalender. Ada sesuatu yang berubah dalam cara saya memandang bulan ini. Bulan yang seharusnya mengingatkan kita tentang kemerdekaan justru menghadirkan begitu banyak pertanyaan tentang keselamatan, tentang kehidupan, dan tentang bagaimana negara memperlakukan rakyatnya.
Lalu ketika memasuki Agustus 2026, alam kembali mengingatkan kita dengan caranya sendiri.
Gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur. Kebakaran besar terjadi di Kalimantan, dan ternyata titik-titik pulau di Indonesia juga mengalami hal serupa. Peristiwa demi peristiwa kembali datang dan mengingatkan kita bahwa manusia tidak pernah benar-benar memiliki kuasa penuh atas kehidupan.
Tetapi di tengah semua kejadian tersebut, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya: mengapa setiap kali bencana terjadi, masyarakat bawah kembali menjadi kelompok yang paling banyak menanggung akibatnya?
Mereka yang tinggal di wilayah rawan bencana, mereka yang tidak memiliki cukup sumber daya untuk menyelamatkan diri, mereka yang kehilangan rumah, pekerjaan, keluarga, bahkan masa depan, sering kali adalah mereka yang sebelumnya memang sudah hidup dalam keterbatasan. Ketika bencana datang, mereka kembali menjadi pihak yang harus membayar harga paling mahal.
Lagi-lagi kami masyarakat bawah yang menjadi tumbal atas keserakahan para penguasa.
Kita sering berbicara tentang pembangunan, pertumbuhan ekonomi, investasi, dan kemajuan. Namun, di balik semua itu, ada tanah yang perlahan kehilangan daya dukungnya, hutan yang terus berkurang, ruang hidup masyarakat yang semakin sempit, dan alam yang terus dipaksa menerima lebih banyak daripada yang mampu ditanggungnya.
Mungkin selama ini kita terlalu menganggap alam sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia untuk digunakan. Kita mengambil, membangun, mengubah, dan mengeksploitasi seolah-olah bumi tidak memiliki batas dan tidak akan pernah memberikan reaksi terhadap apa yang dilakukan manusia.
Padahal, alam memiliki caranya sendiri untuk berbicara.
Ketika manusia mulai merusak keseimbangan, alam memberikan peringatan. Ketika peringatan itu tidak didengar, ia datang dengan cara yang lebih keras. Dan ketika manusia sudah berulang kali menyampaikan protes tetapi tidak dianggap, mungkin alam akhirnya bertindak dengan caranya sendiri.
Mereka yang berbuat semua ini, kalau tidak melihat semua peristiwa yang terjadi, benar-benar telah buta. Buta mata, buta nurani, buta empati, bahkan tuli sampai tidak terdengar dentuman sedikit pun dari penderitaan masyarakat yang setiap hari semakin nyata.
Ketika manusia protes sudah tidak dianggap, ketika suara rakyat hanya menjadi suara yang berlalu tanpa benar-benar didengar, alam mungkin akan berbicara dengan bahasa yang jauh lebih keras.
Dan di titik inilah saya kembali teringat pada apa yang dahulu diceritakan guru-guru saya tentang kiamat.
Mungkin selama ini kita membayangkan kiamat hanya sebagai sebuah peristiwa besar yang akan datang pada suatu hari nanti, ketika dunia berakhir dan manusia tidak lagi mampu melakukan apa-apa. Namun, semakin melihat apa yang terjadi di sekitar kita, saya justru mulai berpikir bahwa kehancuran tidak selalu harus datang sekaligus.
Bisa jadi, manusia sedang menciptakan kehancurannya sendiri sedikit demi sedikit.
Kita mengikis satu bagian bumi, kemudian bagian lainnya. Kita mengambil lebih banyak daripada yang mampu diberikan alam. Kita merusak hutan, mencemari lingkungan, mengubah ruang hidup, dan terus mengejar keuntungan seolah-olah bumi ini tidak memiliki batas.
Kita membangun dengan mengorbankan keseimbangan. Kita mengejar pertumbuhan dengan mengabaikan mereka yang harus menanggung dampaknya. Kita berbicara tentang kemajuan, tetapi sering kali lupa bertanya, kemajuan untuk siapa dan siapa yang harus membayar harganya?
Dan mungkin inilah bagian yang paling menakutkan.
Ternyata kiamat itu tidak hanya tentang sebuah akhir yang suatu hari akan datang, tetapi bisa juga menjadi pengingat tentang apa yang sedang kita lakukan hari ini. Manusia perlahan mengikis satu per satu bagian bumi ini, mengambil apa yang diinginkan, mengabaikan batas, dan menjadikan kehidupan sebagai sesuatu yang bisa dikorbankan demi kepentingan tertentu.
Jika hari ini kita masih bisa menghirup udara, melihat langit, berjalan di atas tanah, menikmati air, dan menyaksikan anak-anak tumbuh, mungkin semua itu tidak seharusnya kita anggap akan selalu ada.
Sebab bumi juga memiliki batas.
Dan mungkin, ketika manusia sudah terlalu tuli untuk mendengar suara manusia lainnya, alam akan menemukan caranya sendiri untuk mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar bisa diperlakukan sesuka hati.
Barangkali sebelum kita terlalu sibuk bertanya kapan kiamat akan datang, ada pertanyaan yang lebih penting untuk kita renungkan: apakah kita sedang menciptakan kiamat itu sendiri?
Karena bisa jadi, kehancuran tidak selalu dimulai ketika dunia berakhir. Ia mungkin sudah dimulai ketika manusia berhenti peduli pada manusia lain, ketika kekuasaan kehilangan nurani, ketika keuntungan menjadi lebih penting daripada kehidupan, dan ketika bumi diperlakukan seolah-olah tidak akan pernah mampu berkata cukup.