Back

Benarkah Plastik Biodegradable Lebih Aman? Membongkar Mitos di Balik Label Ramah Lingkungan

Lingkungan
Benarkah Plastik Biodegradable Lebih Aman? Membongkar Mitos di Balik Label Ramah Lingkungan

Oleh : Al Fina

Selama ini, ketika mendengar istilah mikroplastik, bayangan yang muncul mungkin adalah botol minum, air laut, ikan, atau makanan yang kita konsumsi. Namun, persoalan plastik ternyata tidak berhenti di sana. Partikel berukuran sangat kecil itu juga telah masuk ke tanah pertanian.

Temuan terbaru dari proyek penelitian MINAGRIS (Micro-and Nano-plastics in Agricultural Soils) menunjukkan betapa rumitnya persoalan tersebut. Dalam pengujian yang mencakup 227 lahan pertanian di 11 negara Eropa, mikroplastik ditemukan pada seluruh lahan yang diteliti. Proyek penelitian yang didanai Uni Eropa ini berlangsung sejak 2021 dan berakhir pada September 2026. 

Yang membuat para peneliti semakin khawatir bukan semata-mata keberadaan plastiknya. Masalahnya adalah apa yang bisa ikut menempel dan terbawa oleh partikel tersebut.

Mikroplastik dapat menjadi semacam permukaan tempat polutan, bahan kimia pertanian, mikroorganisme, bahkan materi genetik berinteraksi. Karena itulah para peneliti menggunakan gambaran “kuda Troya” untuk menjelaskan salah satu potensi bahayanya. 

Bukan Sekadar Sampah Plastik di Tanah

Mikroplastik merupakan pecahan plastik berukuran sangat kecil yang dapat berasal dari berbagai sumber. Di sektor pertanian, plastik memang memiliki banyak kegunaan, mulai dari mulsa hingga berbagai material pendukung produksi.

Menurut Komisi Eropa, meningkatnya penggunaan plastik dalam pertanian telah menyebabkan residu plastik masuk ke tanah dalam bentuk makroplastik, mikroplastik, hingga nanoplastik. MINAGRIS kemudian meneliti bagaimana material tersebut berinteraksi dengan sifat tanah, organisme tanah, tanaman, serta polutan lainnya. 

Masuknya mikroplastik ke tanah juga tidak selalu berarti berasal dari aktivitas pertanian saat ini. Penelitian MINAGRIS menunjukkan kontaminasi dapat mencerminkan praktik penggunaan lahan yang berlangsung sekarang maupun yang terjadi pada masa sebelumnya. Artinya, jejak plastik dapat bertahan dan menjadi bagian dari persoalan tanah dalam jangka panjang.  Di titik inilah persoalannya menjadi lebih kompleks.

Tanah bukan sekadar tempat tanaman berdiri. Di dalamnya terdapat jaringan kehidupan yang sangat rumit seperti bakteri, jamur, cacing tanah, organisme kecil lainnya, bahan organik, air, mineral, dan akar tanaman yang saling berinteraksi.

Ketika satu unsur berubah, dampaknya bisa merambat ke bagian lain.

Mikroplastik Bisa Menjadi “Rumah” Mikroorganisme

Salah satu istilah penting dalam penelitian ini adalah plastisphere. Sederhananya, plastisphere merupakan komunitas mikroorganisme yang hidup atau berkoloni pada permukaan plastik.

Permukaan mikroplastik dapat menyediakan tempat bagi mikroorganisme untuk menempel. Kondisi ini menciptakan ruang interaksi antara plastik, mikroba dan berbagai senyawa kimia yang terdapat di lingkungan.

Penelitian sebelumnya yang diterbitkan di The ISME Journal juga menemukan bahwa komunitas mikroorganisme pada plastisphere tanah dapat berbeda dari komunitas di tanah sekitarnya. Sejumlah gen resistensi antibiotik dan mikroorganisme yang berpotensi patogen ditemukan pada plastisphere, meskipun tingkat dan jenisnya dapat berbeda tergantung jenis plastik dan kondisi tanah. 

Temuan tersebut penting, tetapi ada satu hal yang perlu digarisbawahi. Keberadaan gen resistensi antibiotik pada plastisphere tidak otomatis berarti mikroplastik menyebabkan infeksi pada manusia.

Yang ditunjukkan penelitian adalah adanya lingkungan yang memungkinkan gen dan mikroorganisme tersebut berada bersama dan berpotensi mengalami interaksi. Risiko terhadap kesehatan manusia masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Dengan kata lain, istilah “kuda Troya” lebih tepat dipahami sebagai gambaran mekanisme potensial, bukan bukti bahwa setiap mikroplastik pasti membawa patogen berbahaya ke manusia.

Semakin Kecil, Permukaannya Makin Penting

Menurut penjelasan peneliti MINAGRIS yang dikutip The Guardian, ukuran partikel menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan mikroplastik berinteraksi dengan kontaminan.

Partikel yang lebih kecil memiliki karakteristik permukaan yang memungkinkan interaksi lebih besar dengan berbagai zat di lingkungan. Dalam konteks pertanian, hal tersebut menjadi perhatian karena tanah juga mengandung pestisida, obat-obatan hewan dan berbagai bahan kimia lainnya.  Salah satu contoh yang diteliti berasal dari Swiss.

Penelitian mengenai partikel hasil keausan ban menemukan adanya hubungan antara keberadaan partikel tersebut dengan sejumlah polutan seperti hidrokarbon aromatik polisiklik dan logam tertentu di tanah dekat jalan. Studi tersebut menemukan konsentrasi partikel keausan ban menurun ketika jaraknya semakin jauh dari jalan. 

Ini memberi gambaran bahwa mikroplastik tidak selalu berasal dari plastik yang sengaja digunakan di lahan. Ban kendaraan juga dapat menjadi salah satu sumber partikel mikroplastik berbasis karet yang masuk ke lingkungan.

Ketika Mikroplastik Bertemu Kekeringan

Persoalan menjadi lebih menarik ketika mikroplastik tidak dilihat sendirian. Tanaman di lapangan tidak hanya berhadapan dengan satu jenis tekanan. Mereka bisa mengalami kekeringan, paparan bahan kimia, perubahan suhu, kekurangan unsur hara, sekaligus berada di tanah yang telah terkontaminasi plastik.

Dalam rangkaian penelitian MINAGRIS, para peneliti melaporkan bahwa paparan mikroplastik pada konsentrasi tertentu dapat berkaitan dengan perubahan pertumbuhan dan fungsi tanaman. Dampaknya dapat menjadi lebih nyata ketika tanaman juga menghadapi tekanan kekeringan. 

Pesan penting dari temuan tersebut bukan bahwa “mikroplastik pasti membuat semua tanaman mati”.

Justru sebaliknya, penelitian ini menunjukkan bahwa efek lingkungan sering kali tidak bekerja sendirian.

Dampak gabungan beberapa tekanan dapat berbeda dibandingkan ketika masing-masing faktor diuji secara terpisah. Karena itu, menilai pencemaran tanah hanya berdasarkan satu jenis polutan berpotensi memberikan gambaran yang terlalu sederhana.

Cacing Tanah Juga Tidak Bisa Diabaikan

Bagi sebagian orang, cacing tanah mungkin terlihat seperti makhluk kecil yang tidak terlalu penting. Cacing membantu membentuk struktur tanah, mengolah bahan organik dan berkontribusi pada pergerakan serta siklus unsur hara. Karena itu, perubahan pada komunitas organisme tanah dapat berpengaruh terhadap fungsi ekosistem secara lebih luas.

MINAGRIS secara khusus meneliti dampak mikro dan nanoplastik terhadap biodiversitas tanah, fungsi tanah serta organisme yang hidup di dalamnya. 

Artinya, persoalan mikroplastik bukan sekadar pertanyaan tentang “berapa banyak plastik yang ada di tanah”.

Pertanyaan yang lebih penting Adalah teApa yang terjadi pada sistem kehidupan di dalam tanah ketika plastik tersebut berada di sana selama bertahun-tahun?

Benarkah Plastik Biodegradable Lebih Aman?

Di sinilah masyarakat perlu berhati-hati terhadap kesimpulan yang terlalu sederhana. Plastik biodegradable memang dirancang agar dapat mengalami proses penguraian tertentu. Namun, label “biodegradable” tidak otomatis berarti tidak memiliki dampak lingkungan.

Beberapa penelitian MINAGRIS memang menunjukkan bahwa material biodegradable dapat menjadi mikroplastik selama proses degradasinya. Namun, dampaknya tidak selalu sama untuk setiap bahan, kondisi tanah, konsentrasi dan durasi paparan.

Bahkan, penelitian yang terbit pada 2026 mengenai mikroplastik dari film mulsa biodegradable menemukan tidak ada perubahan terhadap performa selada maupun kesehatan tanah dalam eksperimen jangka pendek dengan konsentrasi yang merepresentasikan kondisi lapangan. Temuan ini menunjukkan mengapa klaim bahwa semua mikroplastik biodegradable pasti berbahaya juga terlalu menyederhanakan persoalan. 

Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar “Apakah plastik ini biodegradable?” Melainkan bagaimana material tersebut terurai, menjadi apa hasil penguraiannya, berapa lama prosesnya berlangsung, dan bagaimana pengaruhnya terhadap tanah serta organisme di dalamnya?

Mengapa Penelitian Ini Penting bagi Pangan?

Tanah yang sehat sering kali luput dari perhatian karena keberadaannya terasa begitu biasa. Kita berjalan di atasnya, petani mengolahnya, tanaman tumbuh darinya, dan pangan berasal darinya. Padahal, tanah merupakan sistem kehidupan yang kompleks.

MINAGRIS dibangun untuk memahami hubungan antara mikro dan nanoplastik dengan kesehatan tanah, produktivitas tanaman, biodiversitas, jasa ekosistem serta faktor sosial-ekonomi di tingkat lahan dan pertanian. Penelitian tersebut melibatkan 20 universitas, lembaga riset dan organisasi dalam 11 lokasi studi di Eropa. 

Karena itu, temuan mengenai mikroplastik sebaiknya tidak dibaca hanya sebagai cerita tentang pencemaran. Ini juga merupakan cerita tentang bagaimana cara manusia memproduksi makanan.

Plastik telah membantu pertanian meningkatkan produktivitas dan melindungi tanaman dalam berbagai kondisi. Tetapi ketika material tersebut tertinggal di lingkungan, manfaat jangka pendeknya perlu dibandingkan dengan konsekuensi jangka panjang yang masih terus diteliti.

Ada satu hal penting agar pemberitaan tentang mikroplastik tidak berubah menjadi kepanikan. Temuan bahwa mikroplastik terdapat di lahan pertanian tidak sama dengan bukti bahwa seluruh makanan yang ditanam di lahan tersebut pasti mengandung mikroplastik dalam kadar berbahaya.

MINAGRIS terutama berfokus pada keberadaan dan dampak mikro serta nanoplastik terhadap tanah, organisme tanah, tanaman dan ekosistem pertanian. Risiko langsung terhadap kesehatan manusia dari temuan tertentu masih membutuhkan kajian tersendiri.

Karena itu, istilah seperti “kuda Troya” sebaiknya digunakan untuk menjelaskan potensi mikroplastik sebagai pembawa atau lokasi interaksi berbagai kontaminan, bukan sebagai bukti bahwa setiap partikel plastik adalah pembawa penyakit.

Tanah Memberi Pesan yang Sering Kita Abaikan

Mungkin bagian paling menarik dari penelitian ini justru bukan soal plastiknya. Melainkan pesan bahwa lingkungan jarang bekerja dengan cara yang sederhana.

Pestisida tidak selalu berdiri sendiri. Kekeringan tidak selalu berdiri sendiri. Mikroplastik pun tidak selalu berdiri sendiri dan semuanya dapat bertemu dalam satu ruang yang sama yakni tanah. 

Itulah sebabnya para peneliti MINAGRIS mendorong agar pencemaran plastik dipandang sebagai bagian dari persoalan pencemaran tanah yang lebih luas, bukan sebagai masalah yang berdiri sendiri. Proyek tersebut juga menekankan perlunya metode pemantauan yang lebih konsisten serta penilaian risiko yang memperhitungkan interaksi berbagai tekanan lingkungan. 

Ia tidak mengeluarkan suara ketika kualitasnya menurun. Tidak mengirimkan notifikasi ketika mikroplastik mulai menumpuk. Tidak memberi peringatan ketika organisme di dalamnya mulai berubah.

Namun, dari penelitian para ilmuwan, kita mulai melihat tanda-tandanya dan mungkin, sebelum kita terlalu sibuk mencari cara membersihkan mikroplastik yang sudah masuk ke tanah, pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana agar semakin sedikit plastik yang berakhir di sana?

You May Also Like

No articles have been published yet