Back

Beban Tak Terlihat yang Dipikul Perempuan : Ketika Lelah Mental Masih Dianggap Hal yang Wajar.

Society
Beban Tak Terlihat yang Dipikul Perempuan : Ketika Lelah Mental Masih Dianggap Hal yang Wajar.

“Kamu Kan Perempuan, Pasti Bisa Mengurus Semuanya.”

"Kamu kan perempuan, pasti bisa mengurus semuanya."

Kalimat itu mungkin terdengar akrab. Bahkan, sering kali diucapkan sebagai bentuk kepercayaan atau pujian. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, ada ekspektasi yang cukup besar di balik kalimat tersebut. Seolah-olah menjadi perempuan berarti harus mampu mengurus banyak hal dalam waktu yang bersamaan—menjadi ibu yang penuh kasih, istri yang perhatian, anak yang berbakti, pekerja yang profesional, sekaligus anggota masyarakat yang aktif.

Perempuan seakan-akan diharapkan selalu tahu apa yang harus dilakukan, bahkan sebelum orang lain menyadarinya.

Ketika anak membutuhkan sesuatu, siapa yang biasanya pertama kali mengingatnya? Ketika stok kebutuhan rumah mulai habis, siapa yang menyadarinya? Ketika ada jadwal keluarga yang harus diatur, ketika orang tua membutuhkan perhatian, atau ketika ada sesuatu yang harus dipersiapkan untuk anak, sering kali ada seseorang yang sudah lebih dulu memikirkannya.

Pekerjaan seperti ini mungkin tidak terlihat. Tidak ada daftar tugas yang jelas, tidak ada jam kerja, bahkan tidak mendapat penghargaan khusus. Namun, pekerjaan tersebut terus berjalan di dalam pikiran.

Inilah yang dikenal sebagai invisible mental load, atau beban mental yang tidak terlihat.

Mental load adalah kerja kognitif dan emosional yang membuat seseorang terus mengingat, merencanakan, mengantisipasi, mengatur, dan memastikan berbagai kebutuhan keluarga maupun pekerjaan berjalan dengan baik. Jadi, persoalannya bukan hanya siapa yang mencuci, memasak, atau membersihkan rumah, tetapi juga siapa yang mengingat, merencanakan, dan memastikan semua pekerjaan itu terjadi. Pekerjaannya mungkin tidak tampak, tetapi energi yang dibutuhkan tidak sedikit.

Ketika Pikiran Tidak Pernah Benar-Benar Beristirahat

Bayangkan seorang perempuan yang bekerja penuh waktu. Pagi harinya dimulai dengan menyiapkan kebutuhan keluarga sebelum berangkat bekerja. Di perjalanan menuju kantor, pikirannya masih memikirkan apakah anak sudah membawa buku yang dibutuhkan hari itu. Sesampainya di kantor, ia kembali menjalankan tanggung jawab pekerjaannya, menyelesaikan rapat, mengejar target, dan memastikan pekerjaan selesai tepat waktu. Namun, di sela-sela semua itu, ada hal-hal lain yang tetap berjalan di dalam pikirannya. Ia mengingat bahwa akhir pekan nanti harus menemani orang tua ke rumah sakit, bahwa kebutuhan rumah mulai habis, atau mungkin ada sesuatu yang harus disiapkan untuk anak.

Ketika jam kerja selesai, urusan belum benar-benar selesai. Sepulang kerja, masih ada menu makan malam yang harus dipikirkan, kebutuhan rumah tangga yang harus dicek, tugas sekolah anak yang perlu diperhatikan, dan berbagai hal kecil lainnya yang mungkin bagi orang lain terlihat sepele. Bahkan ketika akhirnya duduk untuk beristirahat, pikirannya masih terus bekerja. “Besok harus bayar listrik.” “Hadiah ulang tahun keponakan belum dibeli.” “Seragam sekolah sudah disetrika belum?” “Obat ayah tinggal sedikit.” Pikiran-pikiran seperti ini mungkin terlihat sederhana jika hanya muncul sesekali, tetapi ketika terus berputar setiap hari, tanpa benar-benar memiliki waktu untuk berhenti, semuanya bisa menjadi beban yang melelahkan.

Di sinilah kita bisa melihat perbedaan antara kelelahan fisik dan kelelahan mental. Tubuh mungkin sedang diam, tetapi otak tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Seseorang bisa saja sudah duduk, berbaring, atau memiliki waktu untuk dirinya sendiri, tetapi pikirannya masih sibuk memastikan banyak hal tetap berjalan dengan baik. Ia bukan hanya melakukan pekerjaan, tetapi juga menjadi orang yang mengingat pekerjaan tersebut, merencanakannya, mengantisipasi apa yang mungkin terjadi, dan memastikan semuanya tidak terlewat.

Yang sering kali membuat beban ini semakin berat adalah ketika pekerjaan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh perempuan. Ketika perempuan selalu menjadi orang yang paling tahu kebutuhan anak, paling ingat jadwal keluarga, paling cepat menyadari ketika ada sesuatu yang kurang, lama-kelamaan semua tanggung jawab itu terasa seperti bagian yang otomatis melekat pada dirinya. Bukan karena perempuan selalu ingin mengambil semuanya, tetapi karena lingkungan di sekitarnya sudah terbiasa mengandalkan mereka untuk mengingat dan mengurus banyak hal.

Dan mungkin, justru karena pekerjaan itu tidak terlihat, banyak orang tidak menyadari betapa melelahkannya ketika seseorang harus terus membawa begitu banyak hal di dalam kepalanya, bahkan ketika tubuhnya sudah meminta untuk berhenti.

Fenomena yang Dialami Banyak Perempuan

Beban mental bukan sekadar pengalaman pribadi. Ini merupakan persoalan sosial yang dialami banyak perempuan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Laporan UN Women menunjukkan bahwa perempuan masih melakukan sebagian besar pekerjaan perawatan dan pekerjaan domestik yang tidak dibayar (unpaid care and domestic work) dibandingkan laki-laki. Pekerjaan tersebut mencakup mengurus anak, merawat anggota keluarga yang sakit atau lanjut usia, menyiapkan makanan, hingga mengelola berbagai kebutuhan rumah tangga.

Ketika pekerjaan domestik dan pekerjaan profesional harus dijalankan secara bersamaan, perempuan menghadapi beban ganda yang sering kali tidak diakui sebagai bentuk kerja. Padahal, kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan, kesempatan kerja, hingga partisipasi perempuan di ruang publik.

Di Indonesia, situasi ini juga terlihat dalam berbagai survei. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa perempuan menghabiskan waktu lebih banyak dibandingkan laki-laki untuk pekerjaan domestik dan aktivitas pengasuhan yang tidak dibayar. Kontribusi tersebut menjadi fondasi penting bagi kehidupan keluarga dan perekonomian, tetapi sering kali tidak tercatat sebagai aktivitas ekonomi yang memiliki nilai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan melihat kembali apa yang selama ini kita anggap sebagai “pekerjaan biasa”.

Ketika seorang perempuan memastikan anak mendapatkan makanan, mengatur kebutuhan rumah, merawat anggota keluarga yang sakit, atau mengingat berbagai keperluan keluarga, sebenarnya ada waktu, tenaga, dan pikiran yang sedang ia keluarkan.

Pekerjaan yang tidak dibayar bukan berarti tidak bernilai. Justru pekerjaan-pekerjaan inilah yang memungkinkan kehidupan keluarga dan sosial berjalan setiap hari.

Lalu, mengapa beban tersebut begitu sering jatuh kepada perempuan?

Salah satu jawabannya berkaitan dengan konstruksi sosial yang telah terbentuk sejak lama.

Ketika “Perempuan Kuat” Menjadi Standar yang Membebani

Sejak kecil, banyak perempuan dibiasakan untuk menjadi sosok yang peduli terhadap kebutuhan orang lain. Mereka diajarkan untuk peka, mengalah, mengurus, dan memastikan semua orang merasa nyaman. Sementara itu, laki-laki lebih sering dibentuk untuk berperan sebagai pencari nafkah.

Pembagian peran ini tentu terus berubah seiring perkembangan zaman. Semakin banyak perempuan yang berkarier, memimpin organisasi, menjadi akademisi, wirausahawan, hingga mengambil keputusan di berbagai sektor.

Namun, perubahan tersebut tidak selalu diikuti dengan pembagian tanggung jawab domestik yang lebih setara. Akibatnya, banyak perempuan menghadapi apa yang sering disebut sebagai double burden atau beban ganda. Mereka dituntut berprestasi di ruang publik, tetapi tetap memikul sebagian besar tanggung jawab di ruang domestik.

Masyarakat bahkan sering mengagumi perempuan yang mampu melakukan semuanya.

“Hebat ya, masih sempat mengurus rumah.”

“Luar biasa, bisa sukses bekerja sambil mengurus anak.”

Pujian tersebut memang terdengar positif. Namun, tanpa disadari, ia juga dapat memperkuat anggapan bahwa perempuan memang seharusnya mampu menanggung semua beban tersebut.

Padahal, menjadi kuat tidak berarti harus terus-menerus memikul semuanya sendirian. Ada kalanya seseorang membutuhkan bantuan. Ada kalanya seseorang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Dan itu tidak membuatnya menjadi kurang berharga.

Mental load yang terus menumpuk juga dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Kelelahan berkepanjangan, stres, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga meningkatnya risiko burnout dapat muncul ketika beban tersebut tidak dikelola dengan baik.

Dampaknya pun tidak berhenti pada perempuan. Ketika seseorang terus-menerus kelelahan, kualitas interaksi dengan pasangan, anak, rekan kerja, maupun lingkungan sekitar juga dapat terpengaruh.

Karena itu, mental load bukan hanya persoalan individu. Ini adalah persoalan keluarga, lingkungan kerja, dan Masyarakat.

Membangun kesadaran bersama, mengurangi beban mental perempuan tidak cukup dengan mengatakan, “Kalau lelah, istirahat saja.” Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang tentang bagaimana tanggung jawab dibagi.

Membantu pekerjaan rumah bukan hanya soal mencuci piring atau menyapu lantai. Berbagi tanggung jawab juga berarti ikut mengingat jadwal sekolah anak, merencanakan kebutuhan keluarga, mengambil keputusan, dan memastikan berbagai urusan berjalan bersama.

Pasangan dapat secara aktif mengingat jadwal sekolah anak. Anak-anak dapat mulai dilibatkan dalam tanggung jawab sesuai usia mereka. Tempat kerja dapat membangun budaya yang lebih ramah keluarga melalui kebijakan yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Komunitas juga memiliki peran penting sebagai ruang berbagi pengalaman dan saling menguatkan.

Semakin banyak ruang aman bagi perempuan untuk bercerita tanpa takut dihakimi, semakin besar peluang lahirnya perubahan sosial yang lebih inklusif.

Masyarakat yang setara bukanlah masyarakat yang menuntut perempuan menjadi “superwoman”. Sebaliknya, masyarakat yang setara adalah masyarakat yang mampu melihat pekerjaan-pekerjaan yang selama ini tidak terlihat dan menghargainya sebagai bagian penting dari kehidupan bersama.

Mengakui keberadaan mental load bukan berarti memperbesar persoalan. Justru, dari sanalah kita bisa mulai mencari solusi bersama.

Ketika perempuan tidak lagi memikul seluruh beban sendirian, mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar, berkarya, berpartisipasi dalam kehidupan sosial, dan mengambil peran sebagai pemimpin di berbagai bidang.

Pada akhirnya, isu mental load bukan hanya tentang perempuan. Ia adalah cerminan bagaimana masyarakat memandang kerja perawatan, membagi tanggung jawab, dan membangun relasi yang saling menghargai.

Jika kita ingin menciptakan keluarga yang sehat, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih, dan masyarakat yang lebih adil, sudah saatnya kita mulai melihat beban-beban yang selama ini tidak terlihat. Karena perubahan sosial sering kali tidak dimulai dari langkah yang besar. Ia bisa dimulai dari hal yang sederhana: menyadari bahwa setiap orang berhak didengar, dihargai, dan tidak dibiarkan memikul beban kehidupan sendirian.

You May Also Like

No articles have been published yet